Minggu, 18 November 2018

Masjid Tertua di Kota Solo Ini Jadi Destinasi Wisata Religi Andalan

gomuslim.co.id- Berwisata ke Kota Solo bukan hanya wajib mengunjungi Kraton Surakarta atau Taman Balekambang, tapi juga tak afdhol bila belum mengunjungi Masjid Laweyan, yakni masjid tertua di Kota Solo.
Masjid yang berusia hampir lima abad ini, terletak di Dusun Pajang RT 4 RW 4, Laweyan, Solo. Bangunan utamanya tidak besar, hanya 162 meter persegi. Menelisik dari sejarahnya, masjid tertua ini memiliki sejarah yang sangat panjang dan punya kontribusi besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah Karesidenan Surakarta.
Menurut Ketua Takmir Kepengurusan Harian Masjid Laweyan, Achmad Sulaiman, Masjid Laweyan telah ada jauh sebelum Kota Solo terbentuk pada 1745. “Masjid Laweyan dibangun pada 1546, saat Jaka Tingkir berkuasa di Kerajaan Pajang. Masjid ini juga jauh lebih tua dari Masjid Agung Solo yang baru dibangun pada 1763,” ungkapnya mengisahkan.
Selain usianya yang jauh lebih tua, keberadaan Masjid Laweyan juga tidak bisa dilepaskan dari peran seorang pemuka agama Islam Kerajaan Pajang, yang bernama Ki Ageng Henis. Sebelumnya, Masjid Laweyan merupakan tempat peribadatan agama Hindu berupa sanggar (semacam pura) milik Ki Beluk.
“Ki Beluk memiliki hubungan dekat dengan Ki Ageng Henis yang merupakan sahabat dari Sunan Kalijaga. Karena kemuliaan sifat Ki Ageng Henis, Ki Beluk memeluk Islam. Sanggar milik Ki Beluk pun kemudian diubah menjadi langgar (mushala),” papar Achmad.
Di samping itu, Pengaruh Hindu-Jawa melekat dalam arsitektur Masjid Laweyan. Hal itu tampak dari penataan ruang dan sisa ornamen yang masih dapat ditemukan di sekitar masjid hingga saat ini.
Lanjutnya, letak bangunan masjid yang berada di atas bahu jalan merupakan salah satu ciri dari pura.  Tak hanya fungsi, bentuk bangunannya pun mengalami perubahan sebelum fisiknya yang sekarang. Pura yang beralih menjadi Masjid semula berbentuk rumah panggung bertingkat dari kayu.
Menurut dosen arsitektur Universitas Muhammadiyah Solo (UMS) yang juga Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, Alpha Febela Priyatmono, pengaruh Hindu terlihat dari posisi masjid yang lebih tinggi dibandingkan bangunan di sekitarnya.
“Saat ini, sejumlah ornamen Hindu memang tak lagi menghiasi masjid. Akan tetapi, ornamen Hindu seperti hiasan ukiran batu masih menghiasi makam kuno yang ada di kompleks masjid. Kemungkinan hiasan yang sama juga ada di Masjid Laweyan sebelumnya,” tutur Alpha.

Alpha kembali menjelaskan, bahwa tata ruang Masjid Laweyan merupakan tipologi masjid Jawa pada umumnya. Dalam tipologi ini, ruang dibagi menjadi tiga, yakni ruang induk (utama) dan serambi yang dibagi menjadi serambi kanan dan kiri. 
“Masjid ini masih dalam pengaruh Kerajaan Surakarta, hal ini terlihat dari berubahnya bentuk masjid menyerupai bangunan Jawa yang terdiri atas pendopo atau bangunan utama dan serambi. Ada dua serambi, yakni kanan dan kiri. Serambi kanan menjadi tempat khusus putri atau keputren, kalau yang kiri hanya perluasan untuk tempat shalat jamaah,” jelasnya.
Di sudut lain, keberadaan makam di kompleks masjid juga menunjukkan karakteristik dari masjid Jawa. Di kompleks masjid yang hampir mencapai satu hektare itu, terdapat pemakaman untuk para bangsawan Keraton Solo.
“Ada pula ciri arsitektur Jawa yang ditemukan pada bentuk atap masjid. Bentuk atap menggunakan tajuk dan atapnya tediri atas dua bagian yang bersusun, begitulah arsitektur Jawa, kata Alpha.
Selain atap, gaya arsitektur Jawa  juga terlihat pada dinding masjid yang terbuat dari susunan batu bata dan semen. Penggunaan batu bata sebagai bahan dinding, baru digunakan masyarakat sekitar tahun 1800.
Hingga saat ini Masjid Laweyan masih digunakan sesuai fungsi masjid pada umumnya. Selain untuk shalat, masjid ini juga dipergunakan untuk pengajian dan taman pendidikan Alquran. Terkadang, ada pula yang menggunakan Masjid Laweyan sebagai tempat berlangsungnya akad nikah.

Sumber : https://www.gomuslim.co.id/read/news/2016/12/29/2738/masjid-tertua-di-kota-solo-ini-jadi-destinasi-wisata-religi-andalan.html


Jika Anda ingin mengunjungi official website kami kunjungi jadwaldigital.com

Jumat, 16 November 2018

masjid megah Rp. 150 M di bangun di solo

Dream - Kota Solo tampaknya bakal punya ikon baru. Pasalnya, sebuah masjid baru nan megah siap dibangun di sana. Tak hanya untuk tempat ibadah, namun juga sebagai tujuan wisata religi baru.
Adalah Masjid Raya Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, yang pembangunannya dijadwalkan mulai pada Februari mendatang. Ketua Umum panitia pembangunan Masjid Raya Sriwedari sekaligus Wakil Walikota Solo, Achmad Purnomo mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan pengumpulan dana untuk kebutuhan pembangunan masjid terbesar di Solo itu.
Diungkapkan Achmad Purnomo, panitia pembangunan Masjid Raya Sriwedari juga sudah memperoleh dana bantuan dari tiga perusahaan BUMN dengan total Rp80 miliar.
" Iya untuk pembangunan masjid raya ini kami juga memperoleh bantuan dari perusahan-perusahaan BUMN, kami membuka untuk membantu pembangunan masjid ini," ujar Purnomo.
Adapun pembangunan Masjid Raya Sriwedari diperkirakan menelan dana sebesar Rp151,9 miliar. Meski demikian, lanjut Purnomo, dana yang sudah masuk ke rekening panitia pembangunan Masjid Raya Sriwedari sudah mencukupi.

Saat ini dana pembangunan Masjid Sriwedari yang terkumpul mencapai Rp160 miliar. Namun, pihaknya tetap membuka kesempatan bagi warga Solo yang ingin menyalurkan donasinya untuk pembangunan Masjid Sriwedari.

Karena terdapat bagian masjid yang desainnya akan diubah menjadi lebih megah. Yakni pada bagian menara yang semula direncanakan bakal dibangun dengan tinggi 99 meter menjadi 114 meter.

" Terlebih besarnya antusiasme warga untuk turut serta dalam menyukseskan pembangunan Masjid Raya Sriwedari. Pada 5 Februari kita mulai peletakan batu pertama. Semoga semuanya berjalan lancar," pungkas Purnomo.

Di sisi lain, Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo memastikan Masjid Raya Sriwedari akan menjadi masjid termegah di Solo. Sebab, masjid tersebut bakal dibangun di lahan seluas 17 ribu meter persegi.

Masjid akan dilengkapi lima menara yang dapat diakses warga menggunakan lift untuk menikmati pemandangan Kota Solo dari ketinggian. Sedangkan, halaman masjid rencananya akan dibuat seindah mungkin untuk dijadikan ruang terbuka hijau. Pemkot Solo menggunakan desain Jawa klasik untuk Masjid Raya Sriwedari.

" Pemkot menata semuanya, nanti setelah masjidnya kita juga tata kawasan lainnya seperti wayang orang, buku-buku bekas dan lainnya," tandasnya.

Kamis, 15 November 2018

masjid agung surakarta, wisata religi kota solo



Berwisata ke Kota Surakarta bukan hanya wajib mengunjungi Kraton Surakarta atau Taman Balekambang, tapi juga tak afdhol bila belum mengunjungi Masjid Laweyan, yakni masjid tertua di Kota Surakarta.
Masjid yang berusia hampir lima abad ini, terletak di Dusun Pajang RT 4 RW 4, Laweyan, Surakarta. Bangunan utamanya tidak besar, hanya 162 meter persegi. Menelisik dari sejarahnya, masjid tertua ini memiliki sejarah yang sangat panjang dan punya kontribusi besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah Karesidenan Surakarta.
Menurut Ketua Takmir Kepengurusan Harian Masjid Laweyan, Achmad Sulaiman, Masjid Laweyan telah ada jauh sebelum Kota Solo terbentuk pada 1745. “Masjid Laweyan dibangun pada 1546, saat Jaka Tingkir berkuasa di Kerajaan Pajang. Masjid ini juga jauh lebih tua dari Masjid Agung Surakarta yang baru dibangun pada 1763,” ungkapnya mengisahkan.
Selain usianya yang jauh lebih tua, keberadaan Masjid Laweyan juga tidak bisa dilepaskan dari peran seorang pemuka agama Islam Kerajaan Pajang, yang bernama Ki Ageng Henis. Sebelumnya, Masjid Laweyan merupakan tempat peribadatan agama Hindu berupa sanggar (semacam pura) milik Ki Beluk.
“Ki Beluk memiliki hubungan dekat dengan Ki Ageng Henis yang merupakan sahabat dari Sunan Kalijaga. Karena kemuliaan sifat Ki Ageng Henis, Ki Beluk memeluk Islam. Sanggar milik Ki Beluk pun kemudian diubah menjadi langgar (mushala),” papar Achmad.
Di samping itu, Pengaruh Hindu-Jawa melekat dalam arsitektur Masjid Laweyan. Hal itu tampak dari penataan ruang dan sisa ornamen yang masih dapat ditemukan di sekitar masjid hingga saat ini.
Lanjutnya, letak bangunan masjid yang berada di atas bahu jalan merupakan salah satu ciri dari pura.  Tak hanya fungsi, bentuk bangunannya pun mengalami perubahan sebelum fisiknya yang sekarang. Pura yang beralih menjadi Masjid semula berbentuk rumah panggung bertingkat dari kayu.
Menurut dosen arsitektur Universitas Muhammadiyah Solo (UMS) yang juga Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, Alpha Febela Priyatmono, pengaruh Hindu terlihat dari posisi masjid yang lebih tinggi dibandingkan bangunan di sekitarnya.
“Saat ini, sejumlah ornamen Hindu memang tak lagi menghiasi masjid. Akan tetapi, ornamen Hindu seperti hiasan ukiran batu masih menghiasi makam kuno yang ada di kompleks masjid. Kemungkinan hiasan yang sama juga ada di Masjid Laweyan sebelumnya,” tutur Alpha.
Alpha kembali menjelaskan, bahwa tata ruang Masjid Laweyan merupakan tipologi masjid Jawa pada umumnya. Dalam tipologi ini, ruang dibagi menjadi tiga, yakni ruang induk (utama) dan serambi yang dibagi menjadi serambi kanan dan kiri.
“Masjid ini masih dalam pengaruh Kerajaan Surakarta, hal ini terlihat dari berubahnya bentuk masjid menyerupai bangunan Jawa yang terdiri atas pendopo atau bangunan utama dan serambi. Ada dua serambi, yakni kanan dan kiri. Serambi kanan menjadi tempat khusus putri atau keputren, kalau yang kiri hanya perluasan untuk tempat shalat jamaah,” jelasnya.
Di sudut lain, keberadaan makam di kompleks masjid juga menunjukkan karakteristik dari masjid Jawa. Di kompleks masjid yang hampir mencapai satu hektare itu, terdapat pemakaman untuk para bangsawan Keraton Solo.
“Ada pula ciri arsitektur Jawa yang ditemukan pada bentuk atap masjid. Bentuk atap menggunakan tajuk dan atapnya tediri atas dua bagian yang bersusun, begitulah arsitektur Jawa, kata Alpha.
Selain atap, gaya arsitektur Jawa  juga terlihat pada dinding masjid yang terbuat dari susunan batu bata dan semen. Penggunaan batu bata sebagai bahan dinding, baru digunakan masyarakat sekitar tahun 1800.
Hingga saat ini Masjid Laweyan masih digunakan sesuai fungsi masjid pada umumnya. Selain untuk shalat, masjid ini juga dipergunakan untuk pengajian dan taman pendidikan Alquran. Terkadang, ada pula yang menggunakan Masjid Laweyan sebagai tempat berlangsungnya akad nikah.
Sumber : https://wisatasurakarta28.wordpress.com/wisata-religi-masjid-agung-surakarta/


Jika Anda ingin mengunjungi official website kami kunjungi jadwaldigital.com

Rabu, 14 November 2018

Pembangunan Masjid Sriwedari Solo


Masjid Taman Sriwedari Surakarta resmi mulai dibangun. Hal tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Achmad Purnomo hari ini.

Peletakan batu pertama juga diikuti oleh perwakilan organisasi Islam di Solo, seperti Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Pembangunan Masjid Taman Sriwedari Surakarta Resmi Dimulai
Acara tersebut jug disaksikan oleh Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo dan perwakilan pemerintah kabupaten sekitar Surakarta, beserta pimpinan TNI-Polri setempat.

Achmad Purnomo yang juga ditunjuk sebagai ketua panitia pembangunan Masjid Taman Sriwedari Surakarta, mengatakan pengerjaan masjid membutuhkan dana sebesar Rp 162,5 miliar.

"Sebelumnya kita rencanakan Rp 151 miliar. Tapi karena ada perubahan tinggi menara yang sebelumnya 99 meter menjadi 114 meter, dananya juga bertambah," kata Purnomo seusai acara, Senin (5/2/2018).

Pembangunan tidak menggunakan dana APBD maupun APBN. Hingga saat ini, beberapa BUMN telah bersedia memberikan bantuan sebagai bentuk tanggung jawab sosial.

"Sudah ada komitmen dari CSR BUMN memberikan Rp 160 miliar. Kekurangannya tinggal sedikit, nanti pasti ada," ujarnya.

Selain menggunakan dana CSR, panitia pembangunan masjid juga menerima sumbangan masyarakat. Dana yang terkumpul akan selalu dilaporkan ke publik setiap bulan.

Seperti diketahui, masjid yang akan didirikan di lahan eks-Taman Hiburan Rakyat Sriwedari itu merupakan masjid pertama yang berada di jalan utama Kota Solo. Lahan tersebut memiliki luas 17.200 meter persegi.

Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, berharap masjid yang diperkirakan memuat 7.680 orang tersebut bisa menjadi kebanggaan wong Solo.

"Ini merupakan permohonan warga masyarakat yang menginginkan masjid di jalan protokol, Jalan Slamet Riyadi. Memang sudah ada Masjid Agung, tapi aksesnya harus masuk dari Gladag. Semoga kurang dari dua tahun sudah bisa dipakai," pungkasnya. 
Sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3850639/pembangunan-masjid-taman-sriwedari-surakarta-resmi-dimulai


Jika Anda ingin mengunjungi official website kami kunjungi jadwaldigital.com